TEKSTUAL.com – Program pasar murah yang digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur (Kutim) belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah. Tiga kecamatan, yakni Sandaran, Long Mesangat, dan Busang, masih terkendala akses infrastruktur dan logistik.
Pengawas Perdagangan Dalam Negeri Ahli Muda Disperindag Kutim, Ahmad Doni Erfiyadi, mengungkapkan hambatan utama terletak pada jarak tempuh yang jauh serta kondisi jalan dan transportasi yang belum memadai.
“Tiga wilayah ini menjadi tantangan tersendiri. Selain jaraknya jauh, infrastruktur jalan dan sarana transportasi sangat memengaruhi distribusi barang,” ungkapnya saat dikonfirmasi baru baru ini.
Ia mencontohkan Kecamatan Sandaran, di mana biaya transportasi warga menuju lokasi pasar murah terdekat di Sangkulirang bisa mencapai Rp300 ribu. Nilai tersebut hampir setara dengan harga paket sembako yang disubsidi.
“Kalau ongkos perjalanan hampir sama dengan harga sembako, secara ekonomi jadi tidak efisien bagi masyarakat. Itu yang harus kami pertimbangkan,” jelas Ahmad Doni.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disperindag Kutim berencana mencari skema alternatif agar distribusi pasar murah ke wilayah terpencil bisa lebih efektif dan tepat sasaran. Koordinasi lintas instansi pun akan dilakukan.
“Kami akan berkoordinasi dengan Bappeda dan Inspektorat Wilayah untuk memetakan solusi terbaik, terutama terkait dukungan transportasi dan logistik,” katanya.
Menurutnya, prinsip utama Disperindag adalah memastikan seluruh masyarakat Kutim, tanpa terkecuali, dapat merasakan manfaat program pengendalian inflasi.
“Kami ingin kehadiran pemerintah benar-benar dirasakan sampai ke pelosok, bukan hanya di wilayah yang mudah dijangkau,” pungkasnya.
Upaya ini diharapkan mampu memperkuat pengendalian inflasi daerah sekaligus menjaga pemerataan akses kebutuhan pokok bagi seluruh masyarakat Kutai Timur. (adv)
