TEKSTUAL.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Kutai Timur (Kutim) komitmen dalam pemerataan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) melalui program pendidikan inklusif.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan, layanan berbasis SLB tidak mencukupi, mengingat luasnya wilayah Kutim dan lokasi ABK yang tersebar di berbagai kecamatan, seperti Wahau dan Sangkulirang.
“Kalau kita hanya mengandalkan SLB, jelas tidak akan sanggup. Anak-anak di daerah terpencil harus tetap mendapatkan pendidikan berkualitas,” tegasnya, Jumat (19/11/2025).
Untuk mendukung program ini, pemerintah telah menyiapkan sumber daya manusia unggul dengan mengirim 191 guru mengikuti pendidikan S2 bidang inklusi di Universitas Negeri Yogyakarta.
“Guru-guru ini dilatih metode pengajaran adaptif agar mampu membimbing siswa secara optimal dalam lingkungan belajar campuran,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar akses fisik ke sekolah, tetapi juga perubahan sikap dan pola pikir tenaga pendidik agar menciptakan pengalaman belajar aman dan suportif bagi ABK.
“Anak-anak istimewa ini tidak boleh dibiarkan. Mereka juga punya hak yang sama,” jelasnya.
Selain SDM, Pemkab Kutim memperkuat sarana pendukung, termasuk pembangunan ruang kelas ramah disabilitas dan penyediaan alat bantu edukasi. Program ini menjadi fokus jangka panjang pemerintah daerah agar setiap ABK memiliki kesempatan belajar setara dengan anak lain.
“Kami ingin memastikan bahwa inklusi bukan hanya slogan. Harus ada ruang, alat, dan guru yang siap,” tutup Mulyono. (adv).
